بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ


Jika menengok masa lalu, rasanya seperti mimpi menjalani kehidupan selama tahun 2017 ini. Banyak sekali hadiah yang Tuhan berikan padaku. Benar adanya, jika kita hanya memikirkan yang tidak kita miliki, kita hanya akan merasa kurang dan kurang. Namun jika kita berfokus pada apa yang telah Tuhan berikan kepada kita, maka yang ada hanyalah rasa syukur. Dan semakin banyak rasa syukur, semakin banyak nikmatnya menghampiri, bahkan jika itu sekadar rasa damai di dalam hati yang datang tanpa sebab.


Menjadi Perantau

Tahun 2017  ini, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku merasakan hidup jauh dari keluarga dan sahabat-sabatku di Sidoarjo & Surabaya. Setahun (lebih dua bulan) aku hidup di Jakarta, menghidupi diriku sendiri, mulai dari bayar kos, bayar listrik, membeli kebutuhan bulanan, hingga biaya makan. Aku pun bersyukur bisa mengirim sebagian rizki yang Tuhan berikan kepadaku untuk Ibu di rumah. Meskipun oleh Ibu uang tersebut tidak digunakan, melainkan beliau tabung jika sewaktu-waktu ada kebutuhan mendesak.

Keinginan untuk merasakan hidup merantau dan belajar mandiri akhirnya tercapai, meskipun tahun 2014 aku juga pernah tinggal di Jogja selama dua bulan untuk magang, namun biaya hidup saat itu masih ditanggung oleh orang tua. Berbeda dengan tahun ini, seluruh biaya hidup benar-benar dari hasil upayaku sendiri. Tanpa kebaikan Tuhan, aku tak akan pernah bisa mencentang salah satu targetku untuk mencicipi hidup menjadi perantau.


Copywriter & Pekerja Sosial

Di Jakarta, aku bekerja di sebuah NGO sebagai seorang copywriter. Sekali dayung dua pulau terlampaui. Keinginan merasakan menjadi pekerja sosial dan keinginan menjadi seorang copywriter aku dapatkan sekaligus di Jakarta. Terima kasih kepada manager divisi dan bapak direktur kemitraan yang telah memberikan kepercayaannya kepadaku selama lebih dari setahun ini. Menjadi copywriter di sebuah NGO bukanlah hal yang mudah. Tak jarang aku mengeluh lelah karena tenggat waktu pekerjaan yang sering mendadak. Kita semua tahu, bencana tidaklah bisa diprediksi, maka kebutuhan yang harus aku dan tim marcomm penuhi pun juga sering datang mendadak dan harus selesai hari itu juga. Tapi karena pekerjaan ini adalah pilihanku, maka aku harus menerima dan melakukannya semampuku. Boleh mengeluh? Boleh, ini hal yang manusiawi. Namun yang tidak boleh adalah menyerah dan berputus ada. Barangkali lelahku tak ada apa-apanya dibanding rasa lelah para pengungsi Rohingya yang berjalan jauh melewati hutan dan mengarungi laut dari Myanmar ke Bangladesh.

Aku masih ingat, pernah aku merasa haru dan tak terasa aku menangis sambil tersenyum saat melihat dokumentasi anak-anak Suriah yang tinggal di rumah yatim yang dibangun oleh NGO tempatku bekerja. Rumah yatim itu dibangun di Turki. Pun merasa haru saat melihat dokumentasi kegiatan wisata 100 anak-anak yatim se-Jabodebek. Hidup mereka tidaklah mudah, tanpa sosok ayah, dengan Ibu yang harus bekerja mencukupi kehidupan mereka, namun mereka tetap semangat belajar. Bahkan banyak dari mereka yang berprestasi. Ada pula anak yatim di rumah yatim Aceh yang mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi ke Turki, beasiswa penuh dari pemerintah Turki.

Saat mulai menjadi volunteer tahun 2013 lalu di Surabaya, aku pernah berucap tanpa sadar, jika aku tidak bisa membantu dengan dana, maka aku akan membantu dengan tenaga. And, here i am. Sedikit hal yang kulakukan ini semoga menjadi salah satu cara untuk mendapatkan perhatian-Nya. Mencari perhatian manusia itu melelahkan, apalagi jika hanya untuk dipuji dan dipuja. Namun jika mencari perhatian Tuhan, aku yakin Tuhan akan memberikan apa saja yang kita butuhkan, bahkan jika kita tidak pernah memintanya.

Banyak sekali hal yang aku pelajari saat bekerja menjadi copywriter sekaligus pekerja sosial ini. Tugas-tugas menulis mulai dari naskah video, konten media sosial, copy e-poster, spanduk, translate, buku company profile, membuat naskah pidato, dan masih banyak lagi. Aku juga pernah diminta  membuat puisi yang dibacakan di acara Puisi Cinta untuk Rohingya pada tanggal 10 September 2017 di salah satu gedung di Jakarta. Di acara itu hadir pula sastrawan Bapak Taufik Ismail. Meskipun aku tidak hadir (karena yang membacakan puisinya bukan aku), setidaknya puisi buatanku mewakili. Begitulah, rasanya ada kebahagiaan tersendiri ketika karya kita yang berbicara, bukan diri kita. Biarlah orang lain tidak mengenali wajahku, tapi melalui karyaku, orang lain mendapatkan manfaatnya.



Buku Antologi Pertama

Meskipun aku merantau ke Jakarta, tapi aku masih tetap aktif di organisasi FLP (Forum Lingkar Pena) Sidoarjo. Karya pertama dari angkatanku adalah sebuah buku antologi. Dalam buku tersebut aku menulis cerpen yang ada di urutan pertama, berjudul Gara-gara Sepatu Merah. Buku antologi ini dicetak Maret 2017 lalu. Rasanya berbeda memang ketika tulisan kita bisa berwujud buku. Semoga tahun berikutnya aku dan teman-teman FLP Sidoarjo bisa berkarya lagi. Pun aku bisa menulis buku solo, mohon doanya ya.


Catwriter Workshop

Sebagai orang yang menyukai hewan kucing tapi tidak mendapat izin Ibu untuk memelihara kucing, maka aku tuangkan rasa suka itu dalam hal yang lain. Saat mendapat amanah dari managerku untuk berbagi tentang 'menulis', aku tidak menggunakan nama asli, melainkan menyebut diriku sebagai catwriter. Entah, apakah ini karena kurang percaya diri atau tidak ingin menunjukkan eksistensi wajah hahaha, jadi aku pakai istilah catwriter di e-poster workshop-nya.

Rasanya seperti mustahil, untuk pertama kali aku memberi workshop kepenulisan. Yaa.. meskipun lingkup kecil karena hanya di internal kantor, apalagi pesertanya bisa dihitung pakai jari tangan, tapi tetap saja ini membuatku berdegup. Sebelum hari H, aku membuat materinya dulu dengan berbagai referensi. Salah satu materinya berkaitan dengan PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia). Sebagai seorang yang bekerja di bidang kepenulisan, apalagi menyebut dirinya 'blogger', rasanya PUEBI tidak boleh disepelekan. Sadar atau tidak, sering kita menulis kata 'kerja sama' dengan disambung, jadinya 'kerjasama'. Padahal seharusnya dipisah. Ini hanya contoh kecil, masih banyak kekeliruan penulisan yang sering kita lakukan. Mengikuti PUEBI, yang dulu kita kenal sebagai EYD, tidak lantas membuat tulisan kita kaku, kok. Justru ini bisa jadi bentuk kecintaan kita terhadap penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Aku belum bisa disebut sebagai penulis profesional, tapi aku tidak mau berhenti belajar hingga aku menjadi profesional. Ada kalimat yang aku suka dari seorang penulis asal Amerika, “A professional writer is an amateur who didn't quit.”


Zi and Watercolor

Tepat ketika usiaku bertambah awal Desember lalu, aku membuat target baru (Insya Allah, akan aku ceritakan di blog jika target itu sudah terlampaui). Nah, sebagai ajang berlatih agar bisa mencapai target tersebut, maka aku membuat akun instagram yang baru. Nama akunnya @ziandwatercolor. Aku membeli kertas khusus watercolor yang harganya lumayan, pertama kali aku membeli kertas 30 halaman yang harganya lebih dari 100 ribu rupiah hahaha. Teringat pesan Prof. Rhenald, no pain no gain. Ketika kertas itu tidak kugunakan untuk berlatih maka aku akan sangat menyesal telah membelinya. Aku tidak ingin menyesal, jadi akan kugunakan dengan sangat baik. Di sela-sela bekerja, biasanya sih saat weekend, aku akan menggambar dan mewarnainya dengan watercolor yang kubeli di Surabaya pertengahan tahun. Jika watercolor itu habis (kayaknya sih masih lama), barulah aku akan membeli watercolor dengan merk yang berbeda, yang harganya lebih mahal dan lebih bagus kualitasnya. Bagiku, memiliki impian bisa membuat hidup lebih bergairah. Jika impian sudah terlampaui, maka aku akan menambah impian yang lainnya. Apakah terkesan ambisius dan tidak bersyukur? Tidak, justru menurutku ini salah satu cara bersyukur, yaitu dengan terus melakukan hal-hal baru yang semoga bermanfaat. Minimal bermanfaat untuk diri sendiri.

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ
Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan),
kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.
(QS. Al Insyirah: 7)

==========